SUMBER INFORMASI DESA

Recent Posts

Nusantara Mengaji

Salah satu bentuk kepedulian Santri dalam Agenda Nasional yaitu Nusantara Mengaji

Nusantara Mengaji

Salah satu bentuk kepedulian Santri dalam Agenda Nasional yaitu Nusantara Mengaji

Nusantara Mengaji

Indahnya Kebersamaan

Nusantara Mengaji

Ngalap berkah, Tumpengan dalam acara Nusantara Mengaji

Kegiatan Isra Mi'raj

Kegiatan Isra Mi'raj di Madrasah Diniyah Roudlotul Muttaqin Desa Dero

GP ANSOR BRINGIN

Pelantikan Gerakan Pemuda Ansor PAC Bringin di pondok Pesantren Ma'rifatul Ulum

Madrasah Diniyah Roudlotul Muttaqin

Persiapan Haflah Akhirussanah PAUD dan Madrasah Diniyah Roudlotul Muttaqin Ds.Dero Kec.Bringin Kab.Ngawi

Jumat, 08 Juli 2016

Sambutan Reoni

Assalamualaikum Wr. Wb
Salam sejahtera bagi kita semua rekan rekan alumni SMP N 1 Bringin tahun 2004 yang saya banggakan.
Pertama – tama saya mengajak pada kawan – kawan semua untuk mengucapkan Syukur kehadirat Allah SWT dengan mengucapkan Hamdalah bersama – sama atas berkah dan rahmatNya sehingga pada pagi ini kita dipertemukan kembali dalam bingkai acara temu kangen alumni SMP N 1 Bringin tahun 2004 dalam keadaan sehat dan hati yang bahagia.
Keduakalinya dengan mengucap Sholawat dan salam Allahuma solli ala sayidina Muhammad waala alihi sayyidina Muhammad yang kita haturkan kepada beliau baginada nabi Muhammad SAW bisa menjadi salah satu jalan bagi untuk mendapatkan syafaatnya min yaumil hadza illa yaumil kiyamah.amin yarobbal alamin.
Hadirin dan kawan kawan semua, tak terasa sudah 13 tahun lamanya kita tak saling jumpa, rasa haus akan lontaran lontaran canda dan tawa yang pernah kita lakukan dulu, pada pagi hari ini rasa haus itu bisa terobati bagaikan minum air dingin yang segar setelah melakukan perjalan panjang di hamparan gurun pasir yang tak dijumpai suatu sumber mata air sehingga sulit untuk mengungkapkan rasa bahagia itu dalam sebuah kata – kata. Sungguh karunia yang tak ternilai harganya pada pagi ini kita dipertemukan kembali. 13 tahun yang lalu kenangan – kenangan itu tercipta, lalu kenangan itu kita bawa dalam perjalanan hidup yang kita jalani sampai saat ini, namun kenangan bahagia, suka dan duka terlihat jelas pada pagi ini.
Kawan – kawan yang saya banggkan marilah pertemuan ini kita ambil hikmahnya, jangan hanya pertemuan ini dipergunakan sebagai ajang pelampiasan pelepasan hasrat rindu semata namun lebih dari itu marilah kita bersama – sama memikirkan, sumbangan apa yang bisa kita berikan pada bangsa dan masyarakat ini khususnya bagi keluarga besar kita Alumni SMP N 1 Bringin tahun 2004. Saya mewakili panitia mengucapkan banyak terimakasih pada kawan – kawan semua yang telah hadir pada pagi ini yang telah berpartipasi penuh mensukseskan acara ini, karena tanpa kehadiran kalian, tanpa partisipasi baik moral ataupun material acara ini tidak dapat kita laksanakan.
Tak banyak yang bisa saya sampaikan diacara yang penuh bahagia ini, semoga kita diberi kesempatan untuk bersua kembali dimasa yang akan datang, saya mewakili panitia dan atas nama saya pribadi mengucapkan minal aidzin wal faidhin semoga allah selalu memberikan RahmatNya untuk kita semua. Akhir kata dari saya kurang lebihnya mohon maaf.
Waullahul muwafik illa akwamittoriq
Wassalamualaikum Wr.Wb.

Minggu, 12 Juni 2016

Hasil Psikotes Pendamping Desa

Setelah melakukan tes psikotes pada hari sabtu tanggal 4 juni 2016 yang lalu, kini para calon pendamping desa 2016 harap-harap cemas menanti pengumuman tes psikotes yang mereka lakukan.

Psikotes yang dilakukan pada hari sabtu tanggal 4 juni 2016 yang lalu dilakukan melalui dua sesi, masing-masing sesi tes terdiri dari 120 soal.

Soal psikotes sesi pertama terdiri dari soal logika, sedangkan untuk sesi kedua soal berhubungan dengan kepribadian para peserta tes. Dimana peserta hanya menjawab soal dengan pilihan jawaban apakah sangat tidak sesuai dengan kepribadian mereka, tidak sesuai, ragu-ragu, sesuai atau sangat sesuai.

Unutk waktu menjawab pada sesi pertama para peserta diberi waktu 150 menit, sedangkan untuk sesi kedua diberi waktu 60 menit. Namun kebanyakan para peserta untuk soal sesi yang kedua hanya memerlukan waktu 30 menit untuk menjawab karna memang soalnya tergolong "mudah". Sedangkan untuk soal yang sesi pertama banyak dari para peserta yang kehabisan waktu untuk menjawab, sehingga ada beberapa soal yang tidak terjawab.

Setelah selesai melakukan tes psikotes, para peserta dibagikan snack dan juga makan siang berupa nasi padang kotak.

Sampai dengan artikel ini dibuat, pengumuman kelulusan untuk tes psikotes belum keluar.

Semoga setelah pengumuman kelulusan nanti akan banyak wajah-wajah yang tersenyum gembira karena namanya ada dalam daftar peserta yang lulus.

Minggu, 22 Mei 2016

TIGA GOLONGAN PENCARI ILMU

TIGA GOLONGAN PENCARI ILMU
Sedikit inspirasi yang saya ambil dari Bidayatul Hidayah, bahwa manusia di dalam proses menuntut ilmu itu terbagi menjadi tiga golongan yang wajib kita ketahui sebagai pemburu ilmu, dari sekian banyak manusia yang ada di muka bumi ini mempunyai niat atau alasan yang berbeda - beda dalam menuntut ilmu, akan tetapi pada intinya semua akan masuk dalam tiga kelompok ini, yaitu :
Pertama : Orang yang mencari ilmu dengan niat untuk menjadikannya sebagai bekal ke akhirat maka dia tidak berniat dengan mencari ilmu kecuali hanya untuk mendapat keridhaan dari Allah. Maka orang ini termasuk di dalam golongan orang yang beruntung.
Kedua : Orang yang mencari ilmu untuk mendapatkan keuntungan sesaat (dunia) dan mendapatkan kemuliaan, pangkat dan harta benda, sedangkan dia sendiri menyadari hal ini dan merasakan di dalam hatinya akan kejahatan keadaan yang sedang dialaminya dan kehinaan maksudnya. Maka orang ini adalah berada di dalam golongan yang berbahaya. Jikalau dia mati sebelum sempat bertaubat, maka dibimbangi ia akan mati dalam keadaan "su-ul khatimah" kemudian urusannya terserahlah kepada kehendak Allah (dimaafkan atau disiksa). Tetapi kalau dia mendapat taufik sebelum matinya lalu dia bertaubat dan sempat mengamalkan ilmu yang telah dituntutnya dan sempat pula membuat pembetulan terhadap apa yang terciderai dan tercuai. Maka bolehlah dia dikumpulkannya bersama golongan yang beruntung, kerana orang yang bertaubat daripada dosanya sama seperti orang yang tidak berdosa.

Minggu, 15 Mei 2016

Proses Pendidikan Berkharakter Yang Terlupakan

(Sebuah Pelajaran Berharga dr Jordania)
Hakim itu mengejutkan semua orang di ruang sidang. Ia meninggalkan tempat duduknya lalu turun untuk mencium tangan terdakwa. Terdakwa yang seorang guru SD itu juga terkejut dengan tindakan hakim. Namun sebelum berlarut-larut keterkejutan itu, sang hakim mengatakan, “Inilah hukuman yang kuberikan kepadamu, Guru.” Rupanya, terdakwa itu adalah gurunya sewaktu SD dan hingga kini ia masih mengajar SD. Ia menjadi terdakwa setelah dilaporkan oleh salah seorang wali murid, gara-gara ia memukul salah seorang siswanya. Ia tak lagi mengenali muridnya itu, namun sang hakim tahu persis bahwa pria tua yang duduk di kursi pesakitan itu adalah gurunya. Hakim yang dulu menjadi murid dari guru tsb mengerti benar, pukulan dr guru itu bukanlah kekerasan. Pukulan itu tidak menyebabkan sakit dan tidak melukai. Hanya sebuah pukulan ringan untuk membuat murid-murid mengerti akhlak dan menjadi lebih disiplin. Pukulan seperti itulah yang mengantarnya menjadi hakim seperti sekarang. Peristiwa yang terjadi di Jordania pada pekan lalu dan dimuat di salah satu surat kabar Malaysia ini sesungguhnya merupakan pelajaran berharga bagi kita semua sebagai orangtua. Meskipun kita tidak tahu persis kejadiannya secara detil, tetapi ada hikmah yang bisa kita petik bersama.
Dulu, saat kita “nakal” atau tidak disiplin, guru biasa menghukum kita. Bahkan mungkin pernah memukul kita. Saat kita mengadu kepada orangtua, mereka lalu menasehati agar kita berubah. Hampir tidak ada orang tua yang menyalahkan guru karena mereka percaya, itu adalah bagian dari proses pendidikan yang harus kita jalani. Buahnya, kita menjadi mengerti sopan santun, memahami adab, menjadi lebih disiplin. Kita tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang hormat kepada guru dan orangtua.

Jumat, 13 Mei 2016

Pendidikan Islam di Masa Penjajahan Jepang dan Belanda

Pendidikan merupakan faktor penting yang mempunyai andil besar dalam memajukan suatu bangsa, bahkan peradaban manusia. Tujuan pendidikan itu merupakan tujuan dari negara itu sendiri. Pendidikan yang rendah dan tidak berkualitas akan terus mengundang para penjajah, baik penjajahan secara fisik maupun non fisik, seperti penjajahan intelektual, pemikiran, ekonomi, sosial, politik dan agama. Hal ini senada dengan ungkapan “kebodohan bukanlah karena penjajahan tetapi kebodohanlah yang mengundang penjajah”.

Bangsa Indonesia merdeka setelah proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Kemerdekaan ialah terbebasnya suatu bangsa dari belenggu penjajahan.karena dari awal kemerdekaan bangsa inilah suatu Bangsa yang sudah merdeka dapat leluasa mengatur laju bangsa dan pemerintahan untuk mencapai tujuan yaitu menyejahterakan masayarakat bangsa itu sendiri.
Namun setelah bangsa indonesia merdeka dan bebas dari penjajahan,Kemerdekaan tidak sepenuhnya menyelesaikan berbagai persoalan negara. Kemerdekaan politik sesudah masa penjajahan oleh pemerintah Jepang dan Belanda itu lebih mudah dicapai dibandingkan dengan rekonstruksi kultural masyarakat dan renovasi system pendidikan kita, khususnya pendidikan Islam karena tekanan psikologi yang dialami ketika penjajahan saat itu.
Mengamati perjalanan sejarah pendidikan Islam pada masa penjajahan Belanda dan Jepang sungguh menarik dan memiliki proses yang amat panjang. Belanda yang menduduki Indonesia selama 3 ½ abad dan Jepang selama 3 1/ 2 tahun meninggalkan kesengsaraan, mental dan kondisi psikologis yang lemah. Dengan misi gold, glory dan gospelnya mereka mempengaruhi pemikiran dan iedeologi dengan doktrin-doktrin Barat. Akan tetapi kita sepatutnya bangga dengan perjuangan para tokoh Muslim pada masa itu yang berupaya sekuat tenaga untuk mengajarkan Islam dengan cara mendirikan lembaga – lembaga pendidikan Islam seperti madrasah, pesantren, majlis taklim dan sebagainya. Dari lembaga inilah kemudian lahir tokoh- tokoh muslim yang berperan besar dalam mewujudkan kemerdekaan dan membela risalah Islam. Materi yang dipelajari menggunakan referensi dan kitab-kitab kuning berbahasa Arab seperti safinah, Bulughul Marom, dan sebagainya selain itu ilmu jiwa, ilmu hitung pun dipelajari. Pada saat itu disamping menuntut ilmu mereka harus berjuang melawan penjajah.
Itulah sekilas tentang pendidikan Islam pada zaman penjajahan Belanda dan  Jepang. Setelah merdeka, bangsa Indonesia merasa mampu menghirup angin segar di negerinya sendiri karena telah terlepas dari penjajahan. Akan tetapi, sikap, watak dan mental bangsa yang terjajah akan menjadi kendala tersendiri bagi perkembangan negara, khususnya pendidikan Islam di Indonesia.
Pendidikan Islam pada masa Kemerdekaan ini dapat kita bagi menjadi beberapa periode:
1.      Pendidikan Islam Pada Masa Orde Lama
2.      Pendidikan Islam Pada Masa Orde Bar
3.      Pendidikan Islam Pada Masa Reformasi
4.      Pendidikan Islam Masa depan
Seiring dengan perkembangan zaman, persoalan yang dihadapi pun semakin bertambah seperti sistem pendidikan yang sesuai dengan tujuan, visi dan misi negara itu. Masuknya pemikiran-pemikiran barat yang secara tidak langsung meracuni pemikiran-pemikiran Islam dan berbagai krisis yang melanda negeri ini menjadi bagian dari polemik dunia pendidikan khususnya pendidikan Islam saat ini.